Syarah Wasiat Luqman Kepada Anaknya
Bismillahiraahmanirrahim.
Tulisan ini sebagian besarnya merupakan resume dari kajian Rodja Tv pagi ini yang berjudul syarah wasiat Luqman kepada anaknya.
Khususnya mengkaji ayat alquran surat Luqman tentang wasiat/nasehatnya untuk anaknya yang terkandung dalam ayat 13 sampai 19. Namun karena keterbatasan waktu, yang disampaikan baru sampai ayat 17. Dan karena keterlambatan dalam menyimak, sehingga tertinggal mencatat bagian awalnya.
Sebelum tulisan ini masuk pada bahasan nasehat demi nasehat, saya coba tuliskan poin-poin yang telah Ustad sampaikan mengenai bagaimana cara agar nasehat mampu diterima anak:
-orangtua wajib menuntut ilmu agar semakin mampu menjelaskan ke anak
-orangtua harus berlemahlembut. Anak butuh disentuh hatinya. Panggil dengan panggilan sayang, ya bunayya adalah panggilan sayang pada anak dalam bahasa arab. (berarti, jangan menasehati saat emosi)
-ciptakan/jalin dulu jembatan antara orangtua dan anak, jangan ciptakan jurang. Bagaimana caranya: luangkan waktu spesial yang bukan waktu sisa, bukan waktu sambilan. Belajarlah dari Kisah Rasulullah SAW menyentuh hati Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dalam perjalanan dengan untanya yang hanya berdua saja, sebagai contoh waktu yang baik dalam menasehati anak. Cari waktu duduk dengan anak yang nyaman untuk memberi nasehat dan rutinkan berkala (menasehati jangan setiap hari setiap waktu supaya tidak timbul rasa bosan anak terhadap agama). Memberi mauidloh (nasehat) berbeda dengan memberi pengajaran dan pemahaman agama yang bisa setiap waktu setiap saat sebagaimana rasulullah kepada para sahabat dimanapun beliau SAW berada.
1. Nasehat pertama yang harus tertanam adalah tauhid dan bahaya syirik.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. [Luqmân/31:3].
Kenalkan anak pada Rabbnya dan KekuasaanNya, jangan pasrahkan anak ke sekolah islam (sekolah sebagai permisalan) namun abai untuk mengingatkan ini pada anak. Karena kita yang mengaji maka kita juga yang harus menyampaikan langsung. Luqman menyebutkan bahayanya dengan menjelaskan alasannya, yaitu karena syirik adalah dosa terbesar.
2. Nasehat kedua, berbakti pada orangtua dan tidak menaati perintah menyekutukan Allah SWT
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Luqmân/31:14-15].
Di tengah-tengah wasiat luqman diselipkan nasehat Allah SWT, seakan-akan Allah SWT ingin menyampaikan:
- Wahai luqman, engkau telah menunaikan kewajibanmu untuk mengingatkan anakmu akan hak-hakKu (taat dan tidak menyekutukanKu), maka sekarang giliranKu yang mengingatkan anak untuk menunaikan hak-hakmu (wahai luqman/wahai para orangtua)
- Allah SWT menyandingkan kedudukan berbakti kepada orangtua langsung setelah berbakti kepada Allah
-Allah SWT mengambil alih bagian menasehati anak agar berbakti pada orangtua untuk memberitahu kita bahwa sebaiknya yang menasehati anak untuk berbuat baik pada diri kita sendiri adalah orang lain. Bisa pasangan (suami/istri), guru, atau kakek neneknya
- Terhadap orangtua yang memerintahkan menyekutukan Allah SWT, jangan diikuti namun tetap pergauli dengan baik. Pelajaran besar dapat diambil dari bagaimana teguhnya Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu yang di wilayah tempat tinggalnya sangat dikenal akan baktinya pada orangtua namun teguh memegang islam setelah memeluk islam meski orangtuanya memaksa keras agar ia kembali pada kekafiran. Para ulama berpendapat, ayat ke-8 surat al-‘Ankabût, dan ayat ke-14 dan ke-15 surat Luqmân ini di atas turun dengan sebab kisah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu.
3. Nasehat ketiga, tanamkan Muroqobatullah pada anak
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Luqmân berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [Luqmân/31:16].
Di jaman sekarang ini, situasinya cukup berat. Seakan-akan sedikit saja anak keluar rumah, akan mudah baginya terjerumus dalam maksiat bila tidak memiliki sifat muroqobatullah (merasa diawasi Allah SWT).
Tanamkan bahwa kita semua kelak akan dihisab. Tanamkan untuk memohon ampunlah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Saat kita lupa akan maksiat yang pernah kita lakukan, sesungguhnya malaikat tidak pernah lupa mencatatnya. Dunia yang kita kejar, hanyalah fatamorgana dan akan sirna.
4. Nasehat keempat, ajarkan anak untuk mendirikan shalat.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Ironis sebagian orangtua adalah ketika orangtua yang tidak tega membangunkan anak sholat subuh namun tega untuk memaksa anak bangun supaya tidak terlambat sekolah. Penyakit orang tua yang pikirannya hanya dunia dunia dan dunia saja akan melahirkan generasi anak-anak yang meninggalkan shalat dan mendahulukan syahwat. Usia 7 tahun adalah usia perintah shalat dan usia wajib sekolah, namun shalat harus dinomorsatukan. Karena Allah SWT berfirman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa [Thaha/20:132]
5. Nasehat kelima Tanamkan wasiat untuk cegah kemungkaran dan suarakan kebenaran.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Dari mana anak mendapatkan kebiasaan ini? tentu saja dari rumah! Jangan abaikan kesalahan-kesalahan anak meskipun kesalahan kecil. Sedangkan untuk menyuarakan kebaikan, salah satu contohnya bisa dengan mengajak anak untuk terbiasa membacakan hadist-hadist atau ayat-ayat Allah secara bergantian di rumah. Sehingga anak bisa merasakan bahwa kegiatan menyampaikan kebenaran(berdakwah) itu penting dalam kehidupan sehari-hari.
6. Nasehat keenam, tanamkan pada anak bahwasanya rahasia kesuksesan, kekuatan dan keberanian seorang mukmin yang sesungguhnya adalah kesabaran.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Ibnu mas`ud radliyallahu `anhu berkata, bahwa syukur itu setengah dari agama dan setengahnya lagi adalah sabar. Ajarkan sabar dengan menerima takdir Allah dengan berlapang dada, dan larang untuk berandai-andai yang kita kira lebih baik dari takdir Allah SWT.
Demikian, semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
-Kajian Rodja Tv Pagi, senin 9 Rabiul Awal 1439H
-https://almanhaj.or.id/3349-untaian-nasihat-luqman-untuk-buah-hatinya.html
Tulisan ini sebagian besarnya merupakan resume dari kajian Rodja Tv pagi ini yang berjudul syarah wasiat Luqman kepada anaknya.
Khususnya mengkaji ayat alquran surat Luqman tentang wasiat/nasehatnya untuk anaknya yang terkandung dalam ayat 13 sampai 19. Namun karena keterbatasan waktu, yang disampaikan baru sampai ayat 17. Dan karena keterlambatan dalam menyimak, sehingga tertinggal mencatat bagian awalnya.
Sebelum tulisan ini masuk pada bahasan nasehat demi nasehat, saya coba tuliskan poin-poin yang telah Ustad sampaikan mengenai bagaimana cara agar nasehat mampu diterima anak:
-orangtua wajib menuntut ilmu agar semakin mampu menjelaskan ke anak
-orangtua harus berlemahlembut. Anak butuh disentuh hatinya. Panggil dengan panggilan sayang, ya bunayya adalah panggilan sayang pada anak dalam bahasa arab. (berarti, jangan menasehati saat emosi)
-ciptakan/jalin dulu jembatan antara orangtua dan anak, jangan ciptakan jurang. Bagaimana caranya: luangkan waktu spesial yang bukan waktu sisa, bukan waktu sambilan. Belajarlah dari Kisah Rasulullah SAW menyentuh hati Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dalam perjalanan dengan untanya yang hanya berdua saja, sebagai contoh waktu yang baik dalam menasehati anak. Cari waktu duduk dengan anak yang nyaman untuk memberi nasehat dan rutinkan berkala (menasehati jangan setiap hari setiap waktu supaya tidak timbul rasa bosan anak terhadap agama). Memberi mauidloh (nasehat) berbeda dengan memberi pengajaran dan pemahaman agama yang bisa setiap waktu setiap saat sebagaimana rasulullah kepada para sahabat dimanapun beliau SAW berada.
1. Nasehat pertama yang harus tertanam adalah tauhid dan bahaya syirik.
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar”. [Luqmân/31:3].
Kenalkan anak pada Rabbnya dan KekuasaanNya, jangan pasrahkan anak ke sekolah islam (sekolah sebagai permisalan) namun abai untuk mengingatkan ini pada anak. Karena kita yang mengaji maka kita juga yang harus menyampaikan langsung. Luqman menyebutkan bahayanya dengan menjelaskan alasannya, yaitu karena syirik adalah dosa terbesar.
2. Nasehat kedua, berbakti pada orangtua dan tidak menaati perintah menyekutukan Allah SWT
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. [Luqmân/31:14-15].
Di tengah-tengah wasiat luqman diselipkan nasehat Allah SWT, seakan-akan Allah SWT ingin menyampaikan:
- Wahai luqman, engkau telah menunaikan kewajibanmu untuk mengingatkan anakmu akan hak-hakKu (taat dan tidak menyekutukanKu), maka sekarang giliranKu yang mengingatkan anak untuk menunaikan hak-hakmu (wahai luqman/wahai para orangtua)
- Allah SWT menyandingkan kedudukan berbakti kepada orangtua langsung setelah berbakti kepada Allah
-Allah SWT mengambil alih bagian menasehati anak agar berbakti pada orangtua untuk memberitahu kita bahwa sebaiknya yang menasehati anak untuk berbuat baik pada diri kita sendiri adalah orang lain. Bisa pasangan (suami/istri), guru, atau kakek neneknya
- Terhadap orangtua yang memerintahkan menyekutukan Allah SWT, jangan diikuti namun tetap pergauli dengan baik. Pelajaran besar dapat diambil dari bagaimana teguhnya Saad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu yang di wilayah tempat tinggalnya sangat dikenal akan baktinya pada orangtua namun teguh memegang islam setelah memeluk islam meski orangtuanya memaksa keras agar ia kembali pada kekafiran. Para ulama berpendapat, ayat ke-8 surat al-‘Ankabût, dan ayat ke-14 dan ke-15 surat Luqmân ini di atas turun dengan sebab kisah Sa’ad bin Abi Waqqash Radhiyallahu anhu.
3. Nasehat ketiga, tanamkan Muroqobatullah pada anak
يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ
(Luqmân berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. [Luqmân/31:16].
Di jaman sekarang ini, situasinya cukup berat. Seakan-akan sedikit saja anak keluar rumah, akan mudah baginya terjerumus dalam maksiat bila tidak memiliki sifat muroqobatullah (merasa diawasi Allah SWT).
Tanamkan bahwa kita semua kelak akan dihisab. Tanamkan untuk memohon ampunlah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan. Saat kita lupa akan maksiat yang pernah kita lakukan, sesungguhnya malaikat tidak pernah lupa mencatatnya. Dunia yang kita kejar, hanyalah fatamorgana dan akan sirna.
4. Nasehat keempat, ajarkan anak untuk mendirikan shalat.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Ironis sebagian orangtua adalah ketika orangtua yang tidak tega membangunkan anak sholat subuh namun tega untuk memaksa anak bangun supaya tidak terlambat sekolah. Penyakit orang tua yang pikirannya hanya dunia dunia dan dunia saja akan melahirkan generasi anak-anak yang meninggalkan shalat dan mendahulukan syahwat. Usia 7 tahun adalah usia perintah shalat dan usia wajib sekolah, namun shalat harus dinomorsatukan. Karena Allah SWT berfirman Allâh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ
Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa [Thaha/20:132]
5. Nasehat kelima Tanamkan wasiat untuk cegah kemungkaran dan suarakan kebenaran.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Dari mana anak mendapatkan kebiasaan ini? tentu saja dari rumah! Jangan abaikan kesalahan-kesalahan anak meskipun kesalahan kecil. Sedangkan untuk menyuarakan kebaikan, salah satu contohnya bisa dengan mengajak anak untuk terbiasa membacakan hadist-hadist atau ayat-ayat Allah secara bergantian di rumah. Sehingga anak bisa merasakan bahwa kegiatan menyampaikan kebenaran(berdakwah) itu penting dalam kehidupan sehari-hari.
6. Nasehat keenam, tanamkan pada anak bahwasanya rahasia kesuksesan, kekuatan dan keberanian seorang mukmin yang sesungguhnya adalah kesabaran.
يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ
Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). [Luqmân/31:17].
Ibnu mas`ud radliyallahu `anhu berkata, bahwa syukur itu setengah dari agama dan setengahnya lagi adalah sabar. Ajarkan sabar dengan menerima takdir Allah dengan berlapang dada, dan larang untuk berandai-andai yang kita kira lebih baik dari takdir Allah SWT.
Demikian, semoga bermanfaat.
Wassalamu'alaikum Wr Wb
-Kajian Rodja Tv Pagi, senin 9 Rabiul Awal 1439H
-https://almanhaj.or.id/3349-untaian-nasihat-luqman-untuk-buah-hatinya.html
Komentar
Posting Komentar